Dieng Mulai Sepi Pengunjung
Ancaman gas beracun karbon monoksida (CO) dan karbon dioksida (CO2) muncul seiring dengan meningkatnya aktivitas di Gunung Berapi Dieng. Berita yang beredar menyebutkan, gas beracun itu dikhawatirkan muncul, tak hanya dari Kawah Timbang, tapi juga dari tanah permukiman warga.
Kondisi itu langsung berdampak pada kunjungan wisatawan ke sejumlah objek wisata, seperti Kawah Sekendang dan Kawah Telogo Warna di Banjarnegara.
Jika biasanya, jumlah wisatawan ke dua objek itu mencapai 1.500 orang setiap harinya, kini, hampir tidak ada kunjungan wisatawan.
Itu tentu berdampak pada pemasukan kas kabupaten setempat karena tidak ada tiket masuk yang terjual. Untuk masuk ke objek wisata itu, pengunjung dikenai hanya Rp2.000.
Karena itu, pihak Pemkab Banjarnegara, khususnya Dinas Pariwisata setempat, terus mencoba mensosialisasikan bahwa objek wisata Kawah Sekundang dan Kawah Telogo Warna masih aman dikunjungi. (Metrotvnews/OL-9)
Jejak Letusan Dieng dari Masa ke Masa
Pegunungan Dieng yang berada di wilayah Kabupaten Batang, Banjar Negara, dan Wonosobo memiliki enam kawah, yakni Sileri, Sinila, Siglagah, Condrodimuko, Sikidang, dan Timbang. Erupsi tahun ini terjadi di Kawah Timbang yang berada di wilayah Kabupaten Banjarnegara. "Aliran gas mengalir sejauh 50 meter ke arah selatan," ujar Kepala Pusat Data dan Informasi Badan Nasional Penanggulangan Bencana, Senin, 30 Mei 2011.
Meningkatnya aktivitas Gunung Dieng yang disertai keluarnya gas beracun kali ini mengingatkan pada peristiwa yang terjadi pada 1979. Pada erupsi tahun itu, gas beracun yang dikeluarkan gunung ini menewaskan 149 orang.
Kompleks Gunung Berapi Dieng terletak di dataran tinggi Jawa Tengah. Selama beberapa abad, aktivitas gunung berapi di Dieng didominasi oleh letusan freatik dan aktivitas panas bumi (fumarol, solfataras, kolam lumpur, sumber air panas).
Gunung Dieng terkenal karena pelepasan karbon dioksida yang kadang-kadang menyebabkan kematian bagi penduduk. Emisi karbon dioksida dapat merusak vegetasi sekitarnya dan masyarakat setempat mengetahui "lembah kematian".
Pada Januari 2009, erupsi terjadi. Status Gunung Dieng dinaikan dari tingkat I ke siaga II setelah dua letusan freatik terjadi.
Pada Maret 1992, emisi gas beracun yang keluar dari Kawah Sikidang membunuh satu orang.
Yang paling mematikan adalah letusan 1979. Pada tahun ini, emisi karbon dioksida yang menyertai letusan freatik (letusan yang disebabkan pemanasan air di bawah tanah) menewaskan 149 orang.
Pada 1944, Gunung Dieng kembali meletus. Hujan abu dan lumpur terjadi di Desa Kepakisan, Sekalem, Sidolok, Pagerkandang, Djawera, dan Kepakisan-lor hingga gelap pekat. Setidaknya 59 orang tewas, 38 orang luka (sebagian luka bakar), dan 55 orang menghilang.
Sedangkan 1939, erupsi freatik terjadi. Retakan membentuk lereng dan menghasilkan pancaran lumpur.
Selebihnya, erupsi juga terjadi pada 1943, 1939, 1928, 1883-84, 1847, 1826, 1825, 1786, 1776, dan 1375.
ARIS | FWH | RIRIN
Dieng masih Waspada
"Hingga saat ini status Kawah Timbang masih tetap waspada, belum diturunkan atau dinaikkan," kata Kepala Pos Pengamatan Gunung Api Dieng PVMBG Tunut Pujiharjo di Banjarnegara, Sabtu (28/5).
Bahkan, kata dia, aktivitas kegempaan di Kawah Timbang cenderung mengalami peningkatan.
Menurut dia, berdasarkan pengamatan Jumat (27/5), pukul 18.00-24.00 WIB, diketahui terjadi sebanyak 13 kali gempa vulkanik dalam, tiga kali gempa vulkanik dangkal, satu kali gempa tektonik jauh, dan enam kali gempa tektonik lokal, empat kali di antaranya dirasakan.
Sementara pengamatan pada Sabtu (28/5) dinihari, pukul 00.00-06.00 WIB, lanjutnya, diketahui terjadi 14 kali gempa vulkanik dalam, dua kali gempa vulkanik dangkal, dan enam kali gempa tektonik lokal, tiga kali di antaranya dirasakan.
"Oleh karena gempa tersebut dirasakan, masyarakat Dukuh Simbar, Kecamatan Batur, yang berada tak jauh dari Kawah Timbang menjadi resah, sehingga mereka berinisiatif mengungsikan anggota keluarga yang lanjut usia maupun sakit ke rumah saudara yang dinilai aman. Ini inisiatif mereka sendiri, bukan arahan dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah," katanya.
Selain itu, kata dia, seluruh kendaraan milik warga tidak lagi berada di dalam garasi. Menurut dia, kendaraan-kendaraan tersebut berada di luar rumah dan mengarah ke lokasi evakuasi sebagai antisipasi terjadinya bencana.
Disinggung mengenai konsentrasi gas karbondioksida (CO2) yang dikeluarkan Kawah Timbang, dia mengatakan, terjadi peningkatan sekitar 0,03 persen volume.
Dalam hal ini, lanjutnya, konsentrasi CO2 pada hari Kamis (26/5) rata-rata sebesar 0,07 persen volume, sedangkan pada hari Jumat (27/5) rata-rata sebesar 0,1 persen volume.
"Kalau hari ini belum diolah meskipun keluarnya setiap lima menit sekali sehingga baru dapat diketahui nanti sore. Kalau yang 0,13 persen volume (seperti yang diwartakan sebelumnya, red.), itu belum dibuat rata-rata," kata dia menjelaskan.
Kendati terjadi peningkatan aktivitas, dia mengatakan, Dataran Tinggi Dieng tetap aman untuk dikunjungi wisatawan karena lokasi Kawah Timbang jauh dari kawasan wisata dan bukan daerah tujuan wisata. (Ant/OL-9)
Gas CO2 di Gunung Dieng Terus Meningkat
Berdasarkan pengukuran petugas Quick Respons Team dari Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Umar Rosadi, pada Senin (30/5/2011) pukul 15.00 WIB diketahui konsentrasi gas CO2 mencapai 0,596 persen volume. Sedangkan pada pagi hari tadi baru mencapai 0,320 persen.
"Meski aktivitas kegempaan mengalami penurunan, namun konsentrasi gas semakin meningkat. Pada angka ini sangat berbahaya bagi manusia, karena batas aman konsentrasi CO2 adalah di bawah 0,5 persen volume," kata umar.
Selain gas karbon dioksida, Kawah Timbang juga mengeluarkan gas-gas lainnya seperti sulfur dan karbon monoksida.
"Namun dari tiga unsur gas yang keluar tersebut, yang paling berbahaya dan mematikan adalah CO2 karena sifatnya yang tidak berwarna dan berasa sehingga tidak dapat terlihat oleh mata," jelasnya.
Oleh karena itu ESDM sudah merekomendasikan wilayah yang berada dalam radius 1 kilometer dari Kawah Timbang tetap diseterilkan.
(mok/mok)
Gas Dieng Mengarah ke Perkampungan
BANJARNEGARA, KOMPAS.com — Aktivitas gas beracun di kawah Timbang Gunung Dieng, Banjarnegara, Jawa Tengah, kian mengkhawatirkan setelah munculnya aliran gas ke arah barat yang kebetulan mengarah ke perkampungan warga. Sebelumnya, aliran gas hanya ke arah selatan.
Anggota staf Pos Pengamatan Gunung Api Dieng, Surip, Selasa (31/5/2011), membenarkan bahwa aliran gas kini sudah mengarah ke arah barat. Bahkan, gas tidak hanya keluar dari mulut kawah Timbang, tetapi bisa juga keluar dari rekahan-rekahan tanah di kawasan dusun.
Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Surono menjelaskan, keluarnya gas beracun dari rekahan tanah di sekitar kawah dimungkinkan karena dipicu konsentrasi gas yang kian meningkat serta aktivitas kegempaan yang terus terjadi. Camat Batur Sarkono mengatakan, sejak semalam hingga pagi hari, proses evakuasi dilakukan serta dibantu Palang Merah Indonesia dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah. Pihak pemerintaj kabupaten telah menyediakan dua lokasi evakuasi, yakni di SMA 1 Batur dan Balai Desa Batur.
Sebagian Pengungsi Dieng Nekat Pulang
Namun, sebagian pengungsi lainnya justru nekat pulang ke rumahnya. Mereka hanya mau mengungsi pada malam hari saja. Namun di siang hari
warga pulang ke rumah dengan alasan tak betah di pengungsian. Seperti warga Desa Simbar dan Serang. Mereka lebih memilih tinggal di rumah meski tetap meningkatkan kewaspadaan.
Sementara itu berdasarkan data hingga siang ini jumlah pengungsi bertambah dari sebelumnya sekitar 300 orang kini sudah menjadi 600 orang lebih yang terbagi dalam 16 titik. Mereka berasal dari Desa Simbar, Serang, Kaliputih, dan Sumberejo.(IAN)
Bupati Banjarnegara Nyatakan Bencana Dieng
"Hari ini saya keluarkan Surat Pernyataan Bencana Dataran Tinggi Dieng," kata Djasri kepada wartawan, di Posko Penanggulangan Bencana Dieng, Kecamatan Batur, Banjarnegara, Senin (30/5).
Menurut dia dalam surat bernomor 360/1560/V/2011 tertanggal 30 Mei 2011 disebutkan bahwa telah terjadi bencana Gunung Dieng yang mengalami erupsi dan mengeluarkan gas beracun (CO2).
Oleh karena itu, kata dia, dengan dikeluarkannya status siaga di wilayah Kecamatan Batur, Pemerintah Kabupaten Banjarnegara menyatakan tanggap darurat sejak tanggal 30 Mei hingga 12 Juni 2011.
Terkait hal itu, lanjutnya, dilakukan upaya penanganan darurat berupa penyaluran logistik, evakuasi, pencarian, dan pertolongan.
"Untuk itu, saya datang ke sini untuk mengecek persiapan penanganan darurat. Kami minta teman-teman di sini melakukan penanganan darurat, termasuk memantau wilayah dalam radius satu kilometer dari Kawah Timbang," katanya.
Disinggung mengenai kemungkinan penetapan status bencana tersebut akan memengaruhi kunjungan wisatawan, dia mengatakan, hal itu tetap akan berpengaruh terhadap kawasan wisata Dieng.
"Jelas ada pengaruh walaupun sebenarnya tidak ada pengaruhnya karena yang dikunjungi kawasan candi, Kawah Sikidang, dan beberapa kawah lainnya. Kalau Kawah Sinila dan Kawah Timbang sejak dulu sudah ada larangan untuk dikunjungi," kata dia menegaskan.
Sementara itu, Camat Batur Sarkono mengatakan, pihaknya telah menyiapkan dua lokasi pengungsian, yakni Balai Desa Batur dan Sekolah Menengah Negeri 1 Batur.
Menurut dia, evakuasi dilakukan sejak Minggu (29/5) malam, pukul 23.30 WIB. Akan tetapi, kata dia, sebagian besar pengungsi kembali ke rumah masing-masing pada pagi hari untuk berladang. "Sebenarnya kami melarang mereka pergi ke ladang," katanya.
Berdasarkan data yang dihimpun Antara, sebanyak 270 keluarga dievakuasi pada Minggu malam.
Sebagian besar berasal dari Dukuh Simbar, Desa Sumberejo, yang jumlahnya mencapai 140 keluarga. Selain itu, sejumlah warga dari Dukuh Sumber, Serang, dan Kali Putih, Desa Sumberejo, turut mengungsi. (Ant/X-13)